Refleksi masa lalu
Umar bin Khattab...
seram, sadis, angkuh dan berdarah dingin.
siapapun takut padanya.
Dia mampu dan tega mengubur hidup2 anak perempuannya, "hanya" karena dia malu.
Tapi kemudian dengarlah ketika Allah memilihnya untuk jadi salah satu "pelindung" Rasulullah di muka bumi dan kelak menjadi penjaga telaga Rasulullah di akhirat.
Ketika Rasulullah berdoa "Ya Allah kuatkanlah Islam dengan dua orang yang lebih Engkau cintai, Umar bin Khattab atau Abu Sofyan?"
Itu adalah titik balik perjalanan hidupnya.
Dia tetap seram, sadis, angkuh dan berdarah dingin.
Coba saja dengar pendapatnya tentang tawanan Badar.
"Terimalah tebusan dari para tawanan itu, ato kalau tidak mampu menebus, maka bunuh saja semua tawanan itu ya Rasulullah".
Hanya saja semua itu ia lakukan semata-mata demi Allah, demi menegakkan dienNya, demi memuluskan langkah Rasulullah untuk menyebarkan Islam.
Dia tak berubah sama sekali, yang berubah hanyalah tujuannya. Bahwa hidupnya ia serahkan untuk perjuangan Islam.
Itulah refleksi dari masa lalu. Bahwa kekuatan kekuatan masa lalu bisa kita kerahkan untuk masa depan dengan hanya merubah orientasi.
Masa lalu...
tak kan pernah terlepas dari kita.
Seburuk apapun kita dulu...
itu "hanyalah" masa lalu.
Karena itu, bagaimanapun aku di masa lalu, biarlah itu jadi masa lalu.
Aku minta maaf pada semua yang tersakiti olehku.
Dan...
terlepas bagaimana aku di masa lalu itu tidaklah begitu penting sekarang.
karena yang terpenting adalah aku yang sekarang sampai ajal menjemputku.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda