Selasa, 24 Maret 2009

Sentuhan Tersembunyi

Dalam hidup, banyak hal yang bisa kita pelajari. Baik dari bangku sekolah, dari rumah ataupun dari lingkungan. Kita mungkin menyebut bahwa dari bangku sekolah kita belajar mengasah skill kita. Lantas dari rumahlah kita belajar untuk menuangkan rasa. Namun kita sadari ataupun tidak hal yang paling sering kita pelajari adalah bagaimana menjadi orang yang lebih baik menurut versi kita sendiri. Ada banyak sekali sentuhan yang kita rasakan, baik kita sadari ataupun tidak yang telah mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik. Ada sentuhan terbuka seperti didikan langsung dari orang tua, tapi tidak sedikit juga sentuhan tersembunyi yang tanpa kita sadari telah mengubah jalan hidup kita. Sentuhan-sentuhan itu kita tidak tahu dari mana asalnya ataupun kapan datangnya, karena bias jadi yang memberi sentuhan itu tidak pernah tahu bahwa itu akan memberi pengaruh kuat pada kehidupan kita selanjutnya.

Aku baru menyadari betapa ternyata aku telah mendapatkan begitu banyak sentuhan tersembunyi. Sebut saja salah satunya ketika aku memutuskan untuk memakai jilbab ketika kelas 3 STM. Tak ada yang menyuruhku secara langsung, bahkan aku belum tahu waktu itu bahwa Allah jelas memerintahkan kaum hawa untuk berjilbab seperti yang ada dalam Al-Quran Surat An-Nuur:31. Tapi di suatu pagi ketika aku bangun tidur dan aku melihat jalan (itupun bukan jalan raya yang besar) aku merasa takut, bagaimana jika nanti aku mati? Apa yang sudah kulakukan. Kemudian entahlah apa yang mengilhamiku untuk memakai jilbab padahal aku tidak tahu bahwa tidak memakai jilbab dosa, dan dosa pasti ada siksanya.

Dan sekarang aku menebak bahwa itulah sentuhan tersembunyi. Mungkin Allah langsung yang menyentuhku dengan langsung mengilhamkan rasa takut di dadaku. Atau melalui salah satu makhluknya yang tanpa kusadari telah memberi pengaruh padaku.

Nah teman, mari kita ingat kembali sentuhan-sentuhan tersembunyi yang kita rasakan dan mari kita evaluasi, semoga dengan begitu kita menjadi manusia yang senantiasa selalu lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi.

Selasa, 17 Maret 2009

Mengejar fatamorgana itu…


Harapan akan masa depan. Itulah fatamorgana air di padang pasir, yang akan terus menyemangati kita untuk terus melangkah. Tidak peduli itu nyata atau tidak, yang pasti bisa membuat sang musyafir tahu kemana dia harus melangkahkan kaki. Tapi yang jadi masalah adalah ketika di pikiran kita, kita tidak punya harapan atau sebenarnya kita punya harapan, tapi pemikiran-pemikiran kita tentang kemustahilan yang membuat kita berhenti melangkah.

Bayangkan, sang musyafir yang ada di tengah padang pasir melihat fatamorgana air, lantas dia berkata “ah itu pasti hanya khayalanku saja, di sini tidak mungkin ada air”.

Kamu tahu apa yang terjadi? Ya, dia akan berhenti melangkah dan meratapi nasibnya. Dia berhenti melangkah! Karena dia sendiri sudah membunuh harapannya. Harapan yang sebenarnya akan mampu membuat dia bangkit untuk melangkah atau bahkan berlari. Itulah harapan. Dan aku tak ingin jadi manusia yang membunuh harapan itu. Sampai kapanpun, harapan itu akan aku simpan di sini, di hati, bersebelahan dengan keimananku pada Sang Pemilik hati, Allah SWT. Dan kaki ini, akan terus melangkah untuk mewujudkan harapan itu sambil terus “merayu” pada Sang Kuasa untuk memenuhi harapanku itu.

Beda dengan musyafir yang melihat fatamorgana air dan ia dengan sekuat tenaganya akan berusaha menggapainya. Apapun yang terjadi, selelah apapun dia, dia tidak akan berhenti, karena dia berharap di sana benar-benar ada air sehingga dia akan bisa mengobati rasa hausnya. Tapi bila di tengah jalan dia sudah tidak kuat ataupun ternyata setelah sampai ternyata itu memang benar-benar hanya sebuah fatamorgana, serahkan semua pada Sang Maha Kuasa, Allah SWT. karena bila ternyata kita kemudian mati sebelum merasakan nikmatnya air, maka itulah takdir yaitu puncak pertemuan dari ikhtiar seorang hamba dan Kehendak Sang Khalik. Tapi tentu saja, matilah kita dengan tersenyum, karena Allah SWT melihat proses usaha yang kita lakukan.

Kamis, 12 Maret 2009

Aku akan menikah...!


Subhanallah, sebuah kalimat yang indah untuk didengar apalagi untuk diucapkan.. tapi tentu saja kita harus melihat hal apa saja yang melatar belakanginya. Beberapa waktu lalu, setelah masa long journey ku yang hampir 3 mgg, ketika aku baru balik ke Malang seorang temanku, sahabatku ngebet banget pingin ketemu. Semula aku berpikir, dia ada masalah yang berat sampai-sampai ingin sekali ketemu denganku. Akhirnya, jadilah kita ketemu di warung jamur sengkaling Soekarno-Hatta jam 16.15. Ya setelah cuap2 tentang liburanku, tibalah waktunya dia mengatakan ”Aku akan menikah”.

Sebuah kalimat singkat, jelas dan padat. Sebuah kalimat yang syarat makna, apalagi bagi seorang perempuan. Karena dia harus siap menyerahkan semua hidupnya pada seorang yang bisa jadi asing sama sekali baginya. Semua hak dan kebebasannya akan ”diintervensi” oleh orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Tapi bersama orang itulah, segalanya akan ia mulai, sebuah keluarga, sekelompok generasi penerus penegak panji-panji Islam.


Mungkin di hati ini terbersit rasa iri, ingin segera menyusulnya.

Mungkin di hati ini terlintas rasa kecewa, karena semuanya tidak akan sama lagi.

Mungkin di hati ini ada sesuatu yang perih, karena persahabatan kita akan berakhir.


Tapi rasa bahagia telah memupus semua.

Bukankah Allah telah menuliskan semuanya, tidak hanya kapan kita menikah, tapi lengkap dengan siapa dan bagaimana prosesnya.


Cinta di dada ini telah mengobati perih ini, karena sahabatku, sahabat yang kucintai akan segera menggenapkan dinnya, akan segera memenuhi panggilan jihadNya untuk jadi ibu rumah tangga.

Persahabatan ini tidak akan berakhir, tidak akan pernah, justru persahabatan ini telah mengalami sedikit masa pendewasaan.


Aku tidaklah ditinggalkan. Aku tetaplah sahabatnya. Aku tetap akan jadi orag yang penting baginya. Aku yakin itu...

Dan satu hal lagi, bahwa aku akan banyak belajar darinya.


Teruntuk Raden Ayu, ”moga Allah memudahkan jalanmu untuk segera menggenapkan dinmu. Barokallahu laka wa barokah ’alaika wajama’a bainakuma fii khoirin.”

Senin, 02 Maret 2009

Refleksi masa lalu

Umar bin Khattab...
seram, sadis, angkuh dan berdarah dingin.
siapapun takut padanya.
Dia mampu dan tega mengubur hidup2 anak perempuannya, "hanya" karena dia malu.

Tapi kemudian dengarlah ketika Allah memilihnya untuk jadi salah satu "pelindung" Rasulullah di muka bumi dan kelak menjadi penjaga telaga Rasulullah di akhirat.
Ketika Rasulullah berdoa "Ya Allah kuatkanlah Islam dengan dua orang yang lebih Engkau cintai, Umar bin Khattab atau Abu Sofyan?"

Itu adalah titik balik perjalanan hidupnya.
Dia tetap seram, sadis, angkuh dan berdarah dingin.
Coba saja dengar pendapatnya tentang tawanan Badar.
"Terimalah tebusan dari para tawanan itu, ato kalau tidak mampu menebus, maka bunuh saja semua tawanan itu ya Rasulullah".
Hanya saja semua itu ia lakukan semata-mata demi Allah, demi menegakkan dienNya, demi memuluskan langkah Rasulullah untuk menyebarkan Islam.

Dia tak berubah sama sekali, yang berubah hanyalah tujuannya. Bahwa hidupnya ia serahkan untuk perjuangan Islam.

Itulah refleksi dari masa lalu. Bahwa kekuatan kekuatan masa lalu bisa kita kerahkan untuk masa depan dengan hanya merubah orientasi.

Masa lalu...
tak kan pernah terlepas dari kita.
Seburuk apapun kita dulu...
itu "hanyalah" masa lalu.

Karena itu, bagaimanapun aku di masa lalu, biarlah itu jadi masa lalu.
Aku minta maaf pada semua yang tersakiti olehku.

Dan...
terlepas bagaimana aku di masa lalu itu tidaklah begitu penting sekarang.
karena yang terpenting adalah aku yang sekarang sampai ajal menjemputku.